Kamis, 21 April 2011

SENI HADRAH

KESENIN HADRAH
 KELURAHAN SUMBERTAMAN KOTA PROBOLINGGO






Kesenian hadrah ini termasuk salah satu kesenian khas probolinggo. Kesenian hadrah ini bernama Al-Intisar, yang di ketuai oleh Bpk. Abdur Rahman.
Kesenian hadrah Al-Intisar ini terletak di Jln. Sunan Giri Kelurahan Sumbertaman Kota Probolinggo.
Kesenian hadrah ini beranggotakan sebanyak 13 orang. 8 orang sebagai pemukul rebana dan sisanya sebagai pembaca shalawat.
Menurut bapak mulyadi kesenian hadrah ini adalah seni yang datang dari pesantren yang digunakan untuk syiar agama dan di iringi dengan bacaan sholawat nabi atau dzikir.
Meskipun sudah menjadi seniman hadrah yang handal, hadrah al-intisar ini butuh waktu untuk latihan. biasanya yang dilatih adalah kekompakan bunyi rebana dengan bacaan sholawat atau dzikir.
meskipun hadrah al-intisar ini tidak begitu terkenal atau populer mereka selalu kebagian menerima job dan mereka selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik.
 Biasanya seni hadrah ini digunakan untuk acara pengajian,maulid nabi Muhammad SAW dan  acara lain-lainnya.
            Terkadang jumlah uang yang didapatkan tidak pasti. Jika job banyak maka uang yang didapatkan semakin banyak pula, menurut bapak mulyadi honor itu nomor 2 yang paling penting bias melestarikan kesenian hadrah ini.
Mulyadi punya harapan, ia ingin agar hadrah al-intisar bias mengikuti kegiatan sampai ditingkat jawa timur bahkan nasional. “Dan paling tidak kesenian hadrah ini bisa dikenal oleh seluruh masyarakat yang luas,” harapnya.

Melalui seni hadrah,kita secara tidak langsung diajarkan untuk mencintai Rasulullah. Selain itu, kita juga harus bisa mengaji (membaca Alquran), karena syair-syair zikir hadrah menggunakan Bahasa Arab yang secara otomatis juga ditulis menggunakan aksara Arab. Dengan demikian kita bisa memperoleh ilmu yang banyak.
 Adapun alat yang digunakan dalam kesenian hadrah ini salah satunya adalah rebana.
Dan Keunikan seni hadrah adalah hanya terdapat satu alat musik yaitu rebana saja yang dimainkan dengan cara dipukul secara langsung oleh tangan pemain tanpa menggunakan alat pemukul. Musik ini dapat dimainkan oleh siapapun untuk mengiringi nyanyian dzikir atau sholawat yang bertemakan pesan-pesan agama dan juga pesan-pesan sosial budaya .
 Alat rebananya sendiri berasal dari daerah Timur Tengah dan dipakai untuk acara kesenian. Kemudian alat musik ini semakin meluas perkembangannya hingga ke Indonesia ,dan mengalami penyesuaian dengan musik-musik tradisional baik seni lagu yang dibawakan maupun alat musik yang dimainkan.
Pada umumnya Hadrah  masih merupakan jenis musik rebana yang mempunyai keterkaitan sejarah pada masa penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga,
Lewat hadrah ini masyarakat bisa mengenal apa itu artinya seni musik yang sebenarnya.
Dan kesenian ini seringkali digelar dalam acara-acara seperti maulid nabi, isra’ mi’raj atau hajatan semacam sunatan dan pernikahan.
Jadi,sebagai genarasi penerus kita harusnya berbangga hati karna dapat menjaga apa yang telah diajarkan nabi muhammad SAW sebelumnya. Oleh karena itu mari kita bersama melestarikan kesenian islami ini. Dan juga nabi muhammad SAW tidak pernah melarang
“seni”.dan mari kita jadikan seni hadrah ini menjadi wahana untuk menggapai cinta serta meraih syafaat nabi muhammad SAW , sehingga kelak kita sebagai generasi penerus nabi akan menjadi ummat yang selamat .

Ayo lestarikan seni hadrah ini..................

Sejarah hadrah


Pada masa penjajahan Belanda, Islam masuk ke Banyuwangi. Tujuan masuknya agama Islam ke banyuwangi adalah untuk meredam gerakan masyarakat banyuwangi yang terkenal sulit ditaklukan. Ketika Belanda berhasil merebut Banyuwangi, kebijakan pertama yang diberlakukan adalah mendirikan wilayah kekuasan yang bisa disetir oleh Belanda, lebih halusnya lagi dinormalisisasi dengan serangkaian aturan agama yang menguntungkan kepenguasaannya.

Hasilnya, Raden Mas Alit sebagai bupati pertama beserta para punggawa yang diangkat sekitar tahun 1770-an oleh Belanda diharuskan memeluk agama Islam. Pesan misionaris agama bisa dilacak pula pada sejarah perjalanan kesenian gandrung yang awal-awalnya ditarikan atau dimainkan oleh orang laki-laki. John Scholte, salah seorang antropolog yang pernah meneliti Banyuwangi, menjelaskan bahwa para penari Gandrung setiap saat mengelilingi desa dengan membawa buntalan tas yang dibuat sebagai tempat beras hasil panen-an. Burda, selatun, wak aji, santri molih, tombo ati, ayun-ayun dan tembang lainnya adalah tembang bernuansa agama yang dibawakan. Dengan demikian, disamping membawa misi mempersatukan kembali rakyat Banyuwangi, Gandrung juga digunakan sebagai alat penyampaian dakwah.

Sekitar tahun 1950 kesenian hadrah muncul. Pada awalnya, Hadrah sangat kental nuansa Islam. Instrumen musik yang mengiringinya adalah Rebana dan Kendang. Penarinya laki-laki dengan bentuk tarian menyerupai tarian Saman dari Aceh. Sedangkan tembang yang dilantunkan adalah baid-baid Burdah.

Pada masa bersamaan arus kesenian Banyuwangi mulai bermunculan, seolah-olah bangkit kembali dari tradisi yang sudah lama diwariskan oleh leluhur, seperti Angklung, Damarwulan, dan Rengganis. Kebangkitan seni ditandai dengan berdirinya organisasi kesenian yang memberikan peluang dan tempat berapresiasi. Pada kepemimpinan presiden Soekarno, Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) memberikan perhatian pada kesenian-kesenian rakyat sebagai muatan perpolitikannya. Seniman-seniman daerah yang bergabung dengan Lekra merasa mendapat angin segar. Mereka kemudian berbondong-bondong mengabadikan dirinya dengan sejumlah karya seni masing-masing dengan mengusung unsur bahasa daerah sebagai ciri khas kesenian Lekra.Kedekatan Lekra berdampingan dengan kesenian yang timbul dari masyarakat Banyuwangi tidak dibarengi oleh lembaga-lembaga kesenian lainnya. Lembaga Kesenian seperti LKN (Lembaga Kesenian Nasional), Lesbumi, dan yang lainnya tidak sekental apa yang telah dilakukan oleh para seniman Lekra. Nasionalisme kedaerahan dengan mengusung bahasa daerah sebagai unsur utama merupakan visi dari seniman Lekra, puluhan lagu berbahasa daerah diciptakan oleh para seniman untuk merespon kondisi sosial saat itu.

Hadrah yang bernuansa Islam sebagai perwujudan dari kesenian agama yang dikembangkan kalangan santri, tidak terlalu mendapat simpati dihati masyarakat, dikarenakan bahasa daerah yang saat itu menjadi sentral perubahan sosial tidak diadopsi sepenuhnya oleh kalangan santri. Faktor lain yang menyebabkan seni Hadrah kurang diminati adalah pola eksklusif kaum santri dengan penduduk di luar golongan santri.
Masa kejayaan Lekra mulai pudar menyusul terjadinya tragedi G 30/S PKI tahun 1965. Tragedi ini tak pelak berimplikasi hebat pada seniman-seniman daerah yang bergabung dalam organisasi Lekra. Setelah peristiwa G 30/S PKI tersebut ketakutan dan kebimbangan menyelimuti kehidupan mereka. Lembaga-lembaga yang bernuansa agama berada diposisi atas angin. Para aktivis seni yang keluar dari Lekra paska 1965 diinternalisasi oleh Lembaga Kesenian Nasional (LKN) untuk melanjutkan kembali apa yang pernah mereka lakukan di Lekra.

Peralihan kekuasaan dari masa Orde Lama (Orla) ke Orde Baru (Orba) juga membawa dampak pada kesenian daerah. Jika pada masa Orla kesenian Banyuwangi lebih menonjolkan fisinya untuk mengkritisi kondisi sosial dan menjadi milik rakyat sepenuhnya, maka yang terjadi pada masa Orba adalah sebaliknya. Setelah tahun 1970-an kesenian daerah diupayakan pada politik estetik semata. Seni kemudian lebih banyak divisualisasi dalam bentuk gerak tari. Hal ini dilakukan dengan tujuan bahwa kesenian akan mendapat medan artistiknya manakala peraga tubuh bisa dinikmati secara langsung oleh para penonton. Kecenderungan estetika kesenian daerah ini mengarahkan massa untuk selalu menikmati kesenian daerah dimana tanpa sadar masyarakat yang menghadiri kesenian tersebut telah mengadopsi dan meyakini pendidikan pembangunan yang dilancarkan oleh kebijakan Orba. Dengan demikian aparatus Negara dalam tujuannya mendisiplinkan masyarakat dengan seperangkat ideologi disusupkan pada kesenian daerah. Ironisnya pada masa ini kesenian juga mempunyai ketergantungan yang tinggi pada insentif pemerintah.


dan pada saat itulah kesenian hadrah ada

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar